Kembali Menulis


1:18
11/6/2011

Cover Buku Bepe
Dua hari ini waktu saya tersita membaca dua buah buku yang saya pinjam dari rekan sekantor saya, Heri Faisal, sang pembuat feature ulung. Buku-buku tersebut berjudul “A9ama Saya Adalah Jurnalisme” karangan Andreas Harsono, dan satu lagi “Bepe20, Ketika Jemariku Menari” karangan striker andalan Persija dan dedengkot timnas Indonesia, Bambang Pamungkas.

Dua buku ini sungguh sangat menarik dan memberikan berbagai inspirasi untuk diri saya dalam porsi berbeda. Harsono, kembali menyadarkan saya perihal jurnalisme yang baik dan benar. Sedangkan Bepe, membuka mata saya tentang sosoknya yang selama ini tidak begitu saya kenal. Juga tentang cara pandangnya terhadap sepakbola terutama, dan banyak hal lain. Menariknya, dua buku ini adalah kumpulan catatan-catatan penulisnya yang dirangkum menjadi satu. Bukan tulisan yang sengaja dimaksudkan untuk menjadi buku.
Kedua buku ini kembali memantik semangat saya – yang sempat memadam – beberapa bulan belakangan. Semangat menulis.

Bepe, dengan tulisan-tulisannya, terlihat jelas ia mempunyai wawasan luas. Cara pandangnya terhadap sepakbola, supporter, kesuksesan, dan pengalaman-pengalamannya adalah sebuah cerminan yang menjelaskan siapa ia sebenarnya. Tak jauh berbeda, Harsono, sosok yang sudah sering saya dengar sepak terjangnya di dunia jurnalistik, baru kali ini saya baca dan nikmati karyanya. Mereka adalah sosok besar yang mampu mengutarakan isi hati dengan tulisan. Kenapa saya katakan besar? Karena, tidak banyak orang yang dikaruniai kemampuan menulis dan merangkai kata dengan baik, benar, dan tidak membosankan.

Saya meyakini, kemampuan mereka dalam menulis pasti melewati proses yang panjang. Tidak mungkin mereka bisa berada di posisi mereka sekarang dengan jalan yang mulus-mulus saja. Kemampuan menulis didapat dengan terus mengasah dan mengasah setiap hari, setiap waktu. Saya, dari kecil sangat menginginkan bisa menulis. Bagi saya, menulis adalah sebuah bukti tingginya tingkat intelektual seseorang.

Disamping itu, saya juga merasa malu dengan diri sendiri. Sampai detik ini, saya masih berprofesi sebagai salah seorang jurnalis di sebuah surat kabar harian di Kota Padang. Profesi yang justru sangat akrab dengan tulis-menulis. Mana ada wartawan yang tidak menulis? Seharusnya, profesi saya saat ini saya manfaatkan sebaik-baiknya untuk menggali potensi diri. Tapi, sebaliknya, saya malah merasa bosan menulis. Membuat berita pun, kadang emoh. Kecuali berita yang benar-benar menarik perhatian saya. 

Harsono, dalam porsinya sebagai jurnalis, juga menyengat dengan tulisan-tulisannya. Ia mengkritik habis media-media besar saat ini. Termasuk media tempat saya bekerja yang merupakan group surat kabar raksasa, Jawa Pos. Saya menyadari, apa yang ia sampaikan dalam buku tersebut benar. Semua yang ia keluhkan, memang saya temui dalam dunia saya sehari-hari. Saya ingin kembali berada di jalur yang benar melalui buku ini. Semoga bisa saya jadikan panduan.

Saya ingin kembali bersemangat menulis. Saya ingin terbiasa menulis. Saya ingin terus menulis, walau mungkin dalam waktu dekat, profesi ini akan saya tinggalkan. Saya ingin belajar menulis. Terima kasih Bepe, Terima kasih Harsono. Kalian telah menginspirasi saya.

Comments

Popular posts from this blog

Bisnis?

Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)

Kembali Menulis