Bisnis?
6.11.2011
Satu hal yang saya sadari belakangan ini. Saya
jarang sekali memotret!
Padahal, mimpi saya dari dulu sampai sekarang masih
sama. Menjadi seorang fotografer professional. Dalam artian, memulai bisnis
fotografi. Foto saya sejak bergabung menjadi fotografer sebuah surat kabar di
Padang, tidak mengalami perkembangan. Jalan di tempat. Bahkan cenderung
menurun.
Dulu, saya masih sempat menikmati hasil
foto yang saya ambil. Sekarang, melihatnya pun malas. Apakah
ini pertanda saya sudah sampai pada titik jenuh? Entahlah. Yang pasti, saya
masih belum melupakan impian saya. Memiliki studio sendiri, dan sukses!
Saya beberapa kali melakukan wawancara dengan
fotografer. Baik itu fotografer jalanan, maupun fotografer yang sudah memiliki
studio sendiri. Dari wawancara-wawancara itu, keinginan saya semakin mantap.
Saya harus berjalan di bidang ini.
Di Asrama Haji, Tabing, Padang, saya menemani Heri
Faisal, rekan sekantor saya, untuk wawancara fotografer musiman yang mangkal
disana. Sayang sekali, saya lupa nama bapak itu. Beliau bekerja dengan sistem
kebut. Ambil foto jamaah haji pagi, cetak, beberapa jam kemudian foto itu
digelar. Satu foto dihargai Rp10ribu. Laris manis. Padahal kualitas fotonya
tidak seberapa. Dari pengakuannya, ia tidak memiliki pekerjaan lain selain menjadi
fotografer kebut ini. Namun, dari hasil foto itulah ia berhasil menguliahkan
empat orang anaknya menjadi sarjana. Uang yang tidak sedikit. Hanya dari foto.
Belakangan saya juga mewawancara Dasrul (panggilan
akrabnya Da Ul). Dia adalah juragan studio foto Pattimura. Studio cetak foto
langganan saya. Da Ul juga memulai bisnisnya dari kebetulan. Ia dulunya kuliah
di jurusan farmasi. Berawal dari acara-acara kawinan, seminar-seminar, sampai
akhirnya sekarang ia memiliki dua buah studio foto, dan satu Kijang Innova
terparkir manis di halaman studionya. Betapa tidak menggiurkan! Padahal, pasar
studio cetak foto untuk Kota Padang lumayan banyak saingan.
Saya berfikiran untuk ikut membuka studio foto di
kampung halaman saya, Pangean. Sudah ada saingan memang. Mungkin, masih bisa
diatasi dengan kualitas yang juga bersaing. Tapi, sampai saat ini saya masih
terkendala masalah klasik. Modal!
Setelah saya hitung-hitung modal awal yang
dibutuhkan untuk membuka studi foto, minimal Rp60 juta. Nominal yang sangat
besar untuk seorang karyawan biasa seperti saya. Harus ada jalan lain. Saya
berencana pulang kampung untuk mendiskusikan hal ini dengan bapak.
Mudah-mudahan disetujui dan saya bisa segera memulai bisnis ini.
Disamping itu, saya juga harus segera upgrade kemampuan memotret saya. Saya
harus belajar dari orang yang lebih berpengalaman. Dalam waktu dekat, dan
segera!

Comments
Post a Comment