Bisnis?

Salah satu hasil foto saya
4.48
6.11.2011

Satu hal yang saya sadari belakangan ini. Saya jarang sekali memotret!

Padahal, mimpi saya dari dulu sampai sekarang masih sama. Menjadi seorang fotografer professional. Dalam artian, memulai bisnis fotografi. Foto saya sejak bergabung menjadi fotografer sebuah surat kabar di Padang, tidak mengalami perkembangan. Jalan di tempat. Bahkan cenderung menurun.

Dulu, saya masih sempat menikmati hasil foto yang saya ambil. Sekarang, melihatnya pun malas. Apakah ini pertanda saya sudah sampai pada titik jenuh? Entahlah. Yang pasti, saya masih belum melupakan impian saya. Memiliki studio sendiri, dan sukses!

Saya beberapa kali melakukan wawancara dengan fotografer. Baik itu fotografer jalanan, maupun fotografer yang sudah memiliki studio sendiri. Dari wawancara-wawancara itu, keinginan saya semakin mantap. Saya harus berjalan di bidang ini.

Di Asrama Haji, Tabing, Padang, saya menemani Heri Faisal, rekan sekantor saya, untuk wawancara fotografer musiman yang mangkal disana. Sayang sekali, saya lupa nama bapak itu. Beliau bekerja dengan sistem kebut. Ambil foto jamaah haji pagi, cetak, beberapa jam kemudian foto itu digelar. Satu foto dihargai Rp10ribu. Laris manis. Padahal kualitas fotonya tidak seberapa. Dari pengakuannya, ia tidak memiliki pekerjaan lain selain menjadi fotografer kebut ini. Namun, dari hasil foto itulah ia berhasil menguliahkan empat orang anaknya menjadi sarjana. Uang yang tidak sedikit. Hanya dari foto.

Belakangan saya juga mewawancara Dasrul (panggilan akrabnya Da Ul). Dia adalah juragan studio foto Pattimura. Studio cetak foto langganan saya. Da Ul juga memulai bisnisnya dari kebetulan. Ia dulunya kuliah di jurusan farmasi. Berawal dari acara-acara kawinan, seminar-seminar, sampai akhirnya sekarang ia memiliki dua buah studio foto, dan satu Kijang Innova terparkir manis di halaman studionya. Betapa tidak menggiurkan! Padahal, pasar studio cetak foto untuk Kota Padang lumayan banyak saingan.

Saya berfikiran untuk ikut membuka studio foto di kampung halaman saya, Pangean. Sudah ada saingan memang. Mungkin, masih bisa diatasi dengan kualitas yang juga bersaing. Tapi, sampai saat ini saya masih terkendala masalah klasik. Modal!

Setelah saya hitung-hitung modal awal yang dibutuhkan untuk membuka studi foto, minimal Rp60 juta. Nominal yang sangat besar untuk seorang karyawan biasa seperti saya. Harus ada jalan lain. Saya berencana pulang kampung untuk mendiskusikan hal ini dengan bapak. Mudah-mudahan disetujui dan saya bisa segera memulai bisnis ini.

Disamping itu, saya juga harus segera upgrade kemampuan memotret saya. Saya harus belajar dari orang yang lebih berpengalaman. Dalam waktu dekat, dan segera!

Comments

Popular posts from this blog

Titian Serambut Dibelah Tujuh (1982)